Alternative flash content

Requirements

Program Sertifikasi Guru Akan Terus Diperbaiki

Jakarta -- Pemerintah memiliki komitmen tinggi untuk terus memperbaiki pelaksanaan program sertif...

Yohana dan Mulyono, Kisah Sukses Pengentasan Buta Aksara

Jakarta –- Berbagai kisah inspiratif mewarnai Program Pendidikan Keaksaraan untuk mengentaskan bu...

Sambutan Kepala Dinas

Assalamualaikum Wr Wb

Salam Sejahtera untuk kita semua,

Puji dan syukur  kita panjatkan ke hadirat  Allah SWT, yang selalu melimpahkan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua.

Selengkapnya..

Yohana dan Mulyono, Kisah Sukses Pengentasan Buta Aksara

Jakarta –- Berbagai kisah inspiratif mewarnai Program Pendidikan Keaksaraan untuk mengentaskan buta aksara di negeri ini. Dalam puncak acara Hari Aksara Internasional ke-46, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar dialog keaksaraan untuk mendengarkan kisah mereka yang berhasil mengentaskan buta aksaranya.

Salah satunya kisah Yohana Genona, perempuan Papua, yang akhirnya mampu membaca dan menulis  pada usia 24 tahun. Yohana tinggal di Kabupaten Tolikara, Papua. Jarak dari Tolikara hingga Wamena cukup jauh, dan tidak ada kendaraan. Yohana tidak mengetahui berapa kilometer jarak tersebut. Ia hanya bisa mengukur dari segi waktu. “Dari Tolikara jalan kaki. Pukul 7 pagi berangkat, sampainya pukul 3 sore,” ujarnya.

Namun Yohana tidak patah semangat. Demi mengentaskan buta aksaranya, ia meninggalkan kampungnya menuju Wamena. “Dari situ (Wamena) naik pesawat ke Jayapura, Sentani. Selama tinggal di Sentani, saya masuk sekolah paket. Di sana diajarin membaca,” tutur Yohana saat berdialog dengan Mendikbud Mohammad Nuh, di Gedung D Kemdikbud, Jumat pagi, (21/10)..

Di Sentani, Yohana belajar di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Budiharti. Ia mengaku senang bisa bersekolah dan belajar. Berkat itu, ia kini bisa membaca dan menulis, juga berhitung. Ilmu hitungnya pun digunakannya untuk berdagang. Yohana yang tiga bulan lalu ditinggal pergi suaminya menghadap Yang Maha Kuasa, sekarang juga mengisi hari-harinya dengan rajin membaca renungan harian dan Alkitab.

Satu lagi kisah sukses dari pengentasan buta aksara datang dari Mulyono, seorang pemuda asal Badui Luar yang berusia 17 tahun. Ayah Mulyono adalah seorang tutor. Dari ayahnya lah ia belajar membaca dan menulis sejak usia tiga tahun. Kemudian di usia sembilan tahun, Mulyono sudah bisa membaca, menulis,dan berhitung.

Keistimewaan orang Baduy Luar adalah mereka bisa terbuka menerima budaya positif yang datang dari luar Badui, berbeda dengan Badui Dalam. Kenyataan sosial inilah yang dimanfaatkan Mulyono untuk mengentaskan buta aksaranya. Bahkan sejak ia bisa membaca dan menulis, ia pun mengajarkan kemampuannya itu kepada adik-adiknya. Hal itu dilakukannya sebelum ia mengambil paket A. Sekarang Mulyono sedang menjalani paket A, dan sudah berjalan satu tahun.

“Perubahan apa yang dirasakan setelah bisa membaca dan menulis?” tanya Dewi Hughes, Duta Pendidikan untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), saat memandu dialog dengan Mendikbud M. Nuh. Mulyono menjawab, perubahan yang paling ia rasakan adalah, ia bisa bepergian dengan bis atau kendaraan umum lainnya tanpa khawatir salah jurusan, karena ia sudah bisa membaca tulisan jurusan di kendaraan.

Usai mendengarkan kisah Yohana dan Mulyono, Menteri Nuh meminta semua yang hadir memberikan apresiasi kepada Yohana dan Mulyono dengan bertepuk tangan. Ia juga memberikan cinderamata berupa paket buku kepada keduanya. Menteri Nuh mengatakan, Yohana dan Mulyono adalah contoh dua warga negara yang memiliki keterbatasan geografis dan sosial-budaya, namun tidak menjadikannya sebagai halangan untuk mengentaskan buta aksara. “Tidak ada alasan untuk tidak belajar keaksaraan,” tegas Mendikbud M. Nuh.

Mendikbud juga mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan terus bergerak, bekerjasama dengan mitranya, seperti pemerintah daerah, taman bacaan, dan PKBM, untuk mengenalkan aksara, dan mencapai Indonesia yang bebas buta aksara. “Satu orang yang bebas buta aksara, bisa berdampak luar biasa untuk lingkungan sekitar,” katanya. (Lian/www.kemendiknas.go.id)

Program Sertifikasi Guru Akan Terus Diperbaiki

Jakarta -- Pemerintah memiliki komitmen tinggi untuk terus memperbaiki pelaksanaan program sertifikasi guru. Komitmen tersebut diwujudkan dengan memperbaiki regulasi, pelaksanaan, sampai ke tingkat evaluasi program.

Perbaikan di sektor regulasi program sertifikasi guru direalisasikan dengan terbitnya Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, menggantikan peraturan yang berlaku sebelumnya. Esensi dari peraturan baru ii adalah memberi ruang dan mendukung pelaksanaan dan peranan guru demi meningkatkan profesionalismenya. Profesionalisme guru diharapkan berdampak pada peningkatan mutu, kreativitas, dan kinerja guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Perbaikan pelaksanaan sertifikasi guru untuk tahun 2012 akan diimplementasikan dalam empat hal yaitu 1) penetapan peserta melalui sistem online; 2) uji kompetensi; 3) perankingan dimulai dari usia, masa kerja, golongan; dan 4) penjadwalan. Perbaikan pelaksanaan tersebut menjadi tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP).

Badan PSDMP dan PMP telah membangun Aplikasi Penetapan Peserta Sertifikasi Guru (AP2SG) untuk memperbaiki akuntabilitas dan sistem rekrutmen peserta sertifikasi. Aplikasi online tersebut dapat diakses melalui lamanwww.sergur.pusbangprodik.org. Pada laman tersebut data guru yang ditampilkan sebagai calon peserta sertifikasi diambil dari basis data NUPTK hasil perbaikan per tanggal 30 September 2011. Persyaratan tentang peserta sertifikasi guru juga diuraikan dengan jelas di laman tersebut.

Data guru yang ditampilkan di laman tersebut adalah guru yang memenuhi persyaratan mengikuti sertifikasi guru dan belum memiliki sertifikat pendidik. Apabila ditemukan data yang tidak tepat, guru yang bersangkutan dapat menghubungi dinas pendidikan kabupaten / kota untuk proses perbaikan data. Perbaikan data calon peserta sertifikasi guru akan berakhir pada tanggal 1 Desember 2011. Dengan demikian data yang ditampilkan pada tanggal 2 Desember 2011 adalah data final peserta sertifikasi guru.

Program sertifikasi telah dijalankan selama lima tahun sejak 2007. Sebanyak 1.101.552 orang guru telah mengikuti sertifikasi. Tahun lalu, 747.727 orang guru telah lulus sertifikasi.

Terhadap pemotongan tunjangan profesi guru yang terjadi, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP) Kemdikbud Syawal Gultom menyesalkannya. “Kami akan terus mengupayakan kelancaran pembayaran profesi guru.” ujarnya saat Publikasi Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru di Gedung D Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (26/10) siang. (widhi/gloria)

Kalender

May 2012
S M T W T F S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2

Link Terkait

Nomor Induk Siswa Nasional
Nomor Induk Siswa Nasional

Login